Teknik Pemetikan Sarang Walet

Panen yang dilakukan secara serampangan tanpa perencanaan dan penanganan yang benar dapat mengakibatkan turunnya mutu produksi sarang walet dan juga akan mempengaruhi kelangsungan hidup burung walet selanjutnya. Oleh karena itu, petani walet perlu mengetahui cara pemetikan walet yang benar dan menyusun program yang ideal.
Proses pemetikan sarang walet pada gedung walet
Penyusunan program yang ideal ini, harus di- sesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya musim yang ada hubungannya dengan penetasan, kondisi gedung, dan lain-lain. Cara dan program panen yang ideal ini, hendaknya memperhitungkan beberapa hal berikut ini.
  • Keuntungan dari hasil panen total selama satu tahun. Kerugian atau kelemahan hasil panen sebelumnya dapat ditutup dengan hasil panen berikutnya pada tahun yang sama. Jadi, perlu diusahakan jangan sampai terjadi kerugian yang terus menerus. 
  • Pemberian kesempatan pada burung walet untuk berkembangbiak agar populasi burung tidak menurun. Apabila regenarasi dan pelestarian burung diabaikan, maka produksi sarang burung walet akan menurun. 
  •  Musim kemarau atau penghujan. Hal ini berkaitan dengan ke- tersediaan makanan yang penting untuk kehidupan burung walet. Dengan memadukan dasar-dasar cara panen, sifat musim, kon- disi daerah, mutu sarang, dan lain-lain, maka teknik panen yang ideal dapat disusun sebagai berikut.
1. Panen pertama dilakukan dengan cara rampasan
Panen sarang burung dilaksanakan pada saat burung walet telah membuat sarangnya, tetapi belum bertelur. Sebaiknya dilakukan sekitar 10 hari sebelum burung walet diperkirakan bertelur untuk memberi kesempatan pada burung walet membuat sarang kembali dengan cepat. Bila waktu yang diberikan sangat pendek dengan saat akan keluarnya telur, maka burung walet akan gelisah. Umumnya, hasil panen dengan cara rampasan ini bentuknya kurang sempurna dan tipis.

Panen dilakukan setelah burung bertelur dua butir, tetapi belum mengeram, kira-kira 2 sampai 3 bulan sejak sarang burung dibuat. Jangan melakukan panen buang telur, bila telur walet baru satu. Bila hal ini dilakukan dapat membuat burung walet panik dan mungkin akan pindah ke tempat lain. Dengan cara seperti ini, telur yang diambil dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi walet, dengan menetaskannya pada sarang sriti atau dijual kepada mereka yang membutuhkannya. Untuk efesiensi panen buang telur, digunakan alat pengontrol (galah berujung cermin). Dengan alat tersebut, orang tidak perlu memanjat untuk melihat jumlah telur yang ada pada tiap sarang. Hasil panen yang diperoleh mutunya sangat baik, bentuknya sempurna dan tebal.

Sistem buang telur pada panen ketiga dilakukan sama halnya panen ketiga. Akan tetapi, dengan pembuangan telur pada teknik ini, pemilik gedung harus benar-benar jeli dalam memperhatikan musim. Biasanya, panen pertama dilaksanakan pada musim hujan karena pada musim hujan akan tersedia makanan yang berlimpah untuk anak burung yang baru menetas

Panen ini dilakukan setelah telur walet menetas dan anak burung walet dapat terbang mencari makan sendiri, kira-kira setelah anak burung berumur 45 hari. Mutu sarang burung yang dipanen rendah karena bentuknya sudah mulai rusak dan banyak dicemari kotoran, bulu, dan pencemar lainnya. Cara panen ini, sebaiknya dimulai pada awal musim huj an karena pada musim tersebut makanan yang tersedia untuk anak walet cukup banyak. Dengan makanan yang cukup tersedia, maka kesehatan walet induk dapat terjamin dan pertumbuhan anak walet normal. Ini berarti dapat menambah populasi walet dan akan menaikkan produksi sarang walet.

Ke-4 teknik pemetikan sarang walet di atas merupakan teknik yang biasanya dilakukan oleh para petani walet. Semoga artikel terkait dengan Teknik Pemetikan Sarang Walet dapat membantu para petani walet sekalian.

0 Response to "Teknik Pemetikan Sarang Walet"

Post a Comment